Widget Gambar

Kekayaan Alam Kutim Harus Diubah Jadi SDM Unggul dan Ekonomi Berkelanjutan

Kekayaan Alam Kutim Harus Diubah Jadi SDM Unggul dan Ekonomi Berkelanjutan
Kopi 7
Memuat tombol bagikan...

Teks foto: Lokakarya Rencana Aksi FORMIKA Kutai Timur Hebat 2045 bertema Sinergi, Kolaborasi, dan Aksi Nyata untuk Pembangunan Kutai Timur yang Berkelanjutan

SAMARINDA – Kekayaan alam Kutai Timur (Kutim) tidak cukup hanya menghasilkan pendapatan daerah. Hingga 2045, sumber daya tersebut ditargetkan menjadi modal untuk membangun manusia yang unggul, infrastruktur yang lebih baik, pangan yang kuat, serta sumber-sumber ekonomi baru yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Lokakarya Rencana Aksi FORMIKA Kutai Timur Hebat 2045 bertema “Sinergi, Kolaborasi, dan Aksi Nyata untuk Pembangunan Kutai Timur yang Berkelanjutan” di Ruang Batara II, Hotel Fugo Samarinda, Rabu (23/9/2026).

Lokakarya berlangsung dua hari, 23–24 September 2026, dan diselenggarakan GIZ Indonesia melalui program GIZ SASCI+ bersama Konsorsium Sustain Kutim.
GIZ atau Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH merupakan lembaga kerja sama pembangunan internasional Jerman yang telah bekerja di Indonesia sejak 1975.

GIZ menjalankan berbagai program kerja sama pembangunan, termasuk di bidang ekonomi berkelanjutan, lingkungan, tata kelola, dan penguatan kapasitas masyarakat.
Sementara GIZ SASCI+ merupakan programSustainability and Value Added in Agricultural Supply Chains in Indonesia, yang mendorong rantai pasok pertanian lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha dan masyarakat.

Di Kutai Timur, program tersebut antara lain mendampingi petani sawit dan karet, memperkuat kelembagaan petani, serta mendorong praktik produksi yang lebih berkelanjutan.

Keterlibatan GIZ di Kutim juga terkait dengan SUSTAIN Kutim (Sustainable Landscape Initiative in Kutai Timur), sebuah kolaborasi sektor publik dan swasta yang dikoordinasikan GIZ, Proforest, dan Tanah Air Lestari. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat kerja sama pemerintah, masyarakat, petani, pekerja, dan perusahaan dalam membangun lanskap pertanian yang berkelanjutan, khususnya pada komoditas sawit dan karet.

Dalam lokakarya tersebut, berbagai pihak dari unsur pemerintah, instansi vertikal, perusahaan, organisasi, akademisi, hingga aktivis duduk bersama untuk merumuskan langkah pembangunan yang dapat dijalankan secara lintas sektor.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengatakan FORMIKA harus menghasilkan langkah konkret, bukan berhenti sebagai ruang pertemuan. Menurutnya, berbagai pihak yang memiliki peran dalam pembangunan perlu duduk bersama sejak tahap perencanaan.

“FORMIKA jangan hanya menjadi tempat bertemu. Kita harus menentukan langkah pembangunan Kutim ke depan,” kata Mahyunadi.

Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab menyiapkan dan mengatur anggaran. Namun, pelaksanaannya membutuhkan dukungan berbagai sektor agar program pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pemerintah menyiapkan dan mengatur anggaran. Tetapi pelaksanaannya harus didukung semua pihak,” ujarnya.

Mahyunadi menekankan, ukuran keberhasilan pembangunan Kutim tidak hanya dilihat dari besarnya pemanfaatan sumber daya alam. Kekayaan tersebut harus mampu menciptakan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

“Keberhasilan kita adalah ketika kekayaan alam bisa menjadi sumber daya manusia yang unggul, infrastruktur yang baik, masyarakat yang produktif, dan pengusaha lokal yang kuat,” katanya.

Selain itu, pembangunan harus memperkuat ketahanan pangan dan membuka sumber ekonomi baru yang tidak mudah rapuh ketika sektor utama mengalami tekanan.

“Jangan hanya bergantung pada satu sumber ekonomi. Kita harus menyiapkan ekonomi baru yang bisa bertahan dan terus berkembang,” ujar Mahyunadi.

Ketua Umum FORMIKA Kutim yang juga Sekretaris Daerah Kutim Rizali Hadi turut hadir bersama jajaran pemerintah daerah. Hadir pula perwakilan instansi vertikal dan perusahaan yang beroperasi di Kutim.

Ketua Harian kegiatan, Sudirman Latif, mengatakan komunikasi antarpihak perlu terus dibangun agar berbagai program tidak berjalan sendiri-sendiri. Dialog menjadi bagian penting untuk menyatukan kepentingan sekaligus mencari solusi atas persoalan pembangunan daerah.

“Kalau ingin pembangunan berkelanjutan, komunikasi dan dialog harus terus dilakukan,” kata Sudirman.

Ia menyebut peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu agenda penting karena berkaitan langsung dengan kemampuan daerah menghadapi persaingan dan menarik investasi yang memberikan nilai tambah bagi Kutim.

“Kita perlu meningkatkan kualitas SDM agar masyarakat lebih mampu bersaing dan daerah semakin menarik bagi investasi,” ujarnya.

Melalui lokakarya ini, FORMIKA diharapkan tidak berhenti pada penyusunan gagasan, tetapi menghasilkan rencana aksi yang dapat diterapkan secara bertahap. Fokusnya adalah memastikan kekayaan dan potensi Kutim memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat, sekaligus membangun fondasi ekonomi yang tetap kuat hingga 2045.(kopi7/kopi4)

Memuat tombol bagikan...