Widget Gambar

Kualitas Udara Memburuk Akibat Asap, Dinkes Kutim Imbau Warga Pakai Masker

Kualitas Udara Memburuk Akibat Asap, Dinkes Kutim Imbau Warga Pakai Masker
hms3
Memuat tombol bagikan...

Teks foto: Petugas melakukan pengukuran kualitas udara di wilayah Puskesmas untuk memantau kondisi udara Kutai Timur yang mengalami penurunan akibat asap. (Istimewa untuk Pro Kutim)

SANGATTA - Kualitas udara di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengalami penurunan akibat asap. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengenakan masker ketika harus keluar rumah. Imbauan itu disampaikan Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati, setelah menerima laporan kondisi udara dari jejaring Puskesmas di sejumlah wilayah Kutim, Rabu (16/9/2026). Laporan dari Puskesmas di hampir seluruh kecamatan menunjukkan kondisi yang hampir serupa, dengan kualitas udara memburuk akibat keberadaan asap.

“Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh, mohon izin bapak Bupati (Ardiansyah Sulaiman), bapak Wakil Bupati (Mahyunadi), bapak Sesda (Rizali Hadi), bapak Asisten dan bapak ibu Kepala Perangkat Daerah, hari ini kondisi udara di Kutai Timur mengalami penurunan kualitas akibat asap," demikian tulis Kadinkes di group percakapan unsur pimpinan Pemkab Kutim.

Karena itu, Yuwana mengimbau semua pihak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan hendaknya memakai masker apabila keluar rumah. Pesan tersebut sekaligus menjadi laporan kondisi terkini yang diteruskan kepada jajaran Pemkab Kutim. Di sisi lain, Dinas Kesehatan telah berinisiatif memanfaatkan jaringan Puskesmas untuk memyosialisasikan imbauan kewaspadaan kepada masyarakat.

Langkah itu penting karena kondisi udara dapat berbeda antarlokasi. Pengukuran yang dilakukan Puskesmas Batu Ampar, misalnya, menunjukkan angka partikulat yang tinggi. Pengukuran kualitas udara di depan Puskesmas Batu Ampar dilakukan pada pukul 16.42 Wita. Hasilnya mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 145 dan PM10 mencapai 419. Suhu tercatat 25,96 derajat Celsius dengan kelembapan 78,7 persen RH. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa angka PM10 yang terukur jauh berada di atas angka normal yang disebut sebesar 75. Kondisi tersebut dilaporkan sebagai tanda kualitas udara berada dalam kategori berbahaya.

“PM 10 menunjukkan angka yang tinggi dok, harusnya normal 75 saja ini sampai 419,” demikian laporan dari Puskesmas Batu Ampar kepada Kadinkes.

Laporan serupa datang dari wilayah Puskesmas Sepaso. Pengukuran dilakukan pada pukul 16.51 Wita dengan hasil yang bahkan menunjukkan konsentrasi partikulat lebih tinggi. PM2.5 tercatat 221, sedangkan PM10 mencapai 629. Suhu berada pada 28,97 derajat Celsius dengan kelembapan 73,5 persen. Angka tersebut dalam laporan Puskesmas Sepaso masuk kategori berbahaya atau sangat tidak sehat. Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan masker ketika berada di luar ruangan.

Dinkes menyarankan penggunaan masker N95, KN95, atau KF94. Jika jenis masker tersebut tidak tersedia, masyarakat tetap dianjurkan menggunakan masker yang dimiliki. Anjuran tersebut menjadi bentuk ikhtiar sederhana untuk mengurangi paparan udara yang tercemar asap, terutama ketika masyarakat harus beraktivitas di luar rumah. Dengan kondisi kualitas udara yang dilaporkan menurun, pengurangan aktivitas di ruang terbuka menjadi salah satu langkah kewaspadaan yang disampaikan pemerintah daerah melalui Dinkes. Selain laporan dari Batu Ampar dan Sepaso, hasil pemeriksaan indeks kualitas udara di Sangatta Utara juga dilaporkan berada dalam kategori tidak sehat.

Rangkaian laporan dari jejaring Puskesmas itu memperlihatkan bahwa persoalan kualitas udara tidak hanya dipantau dari satu titik. Dinkes menghimpun perkembangan kondisi lapangan melalui fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di wilayah Kutim.

Bagi masyarakat, informasi tersebut menjadi pengingat agar lebih awas terhadap kondisi lingkungan sekitar. Asap yang mengurangi kualitas udara dapat membuat aktivitas di luar ruangan menjadi kurang aman, sehingga imbauan untuk mengurangi kegiatan di ruang terbuka dan menggunakan pelindung pernapasan perlu diperhatikan.

Dinkes juga menyampaikan perhatian terhadap kegiatan belajar anak-anak. Dalam pesannya, dr Yuwana menyarankan agar kebijakan pembelajaran dari rumah dapat dipertimbangkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Mulyono.

“Izin, mohon dapat dipertimbangkan bapak Mulyono Kadisdikbud agar anak sekolah dapat belajar dari rumah dulu,” kata Yuwana dalam pesannya.

Usulan tersebut disampaikan seiring laporan kualitas udara yang menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat di sejumlah lokasi. Namun, bahan yang disampaikan belum memuat keputusan lanjutan mengenai pelaksanaan pembelajaran dari rumah.

Di tengah udara yang berkabut asap, kewaspadaan menjadi perkara yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Warga dapat membatasi kegiatan di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus bepergian. Sementara itu, pemantauan melalui Puskesmas menjadi bagian dari upaya Dinkes untuk mengetahui perkembangan kondisi udara di berbagai wilayah Kutim. Jejaring pelayanan kesehatan itu sekaligus menjadi mata dan telinga pemerintah di lapangan. Setiap laporan dari Puskesmas memberi gambaran mengenai keadaan udara di wilayah masing-masing, sehingga imbauan kesehatan dapat disampaikan kepada masyarakat berdasarkan kondisi yang ditemukan.

Dengan laporan kualitas udara yang menunjukkan penurunan di sejumlah titik, Dinkes Kutim mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan keadaan. Mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memakai masker ketika keluar rumah menjadi imbauan utama untuk menjaga kewaspadaan selama kondisi udara akibat asap masih berlangsung. (kopi3)

Memuat tombol bagikan...