Widget Gambar

Mahyunadi Kembali Ajak Teladani Rasulullah Lewat Amal Nyata di Desa Sepaso

Mahyunadi Kembali Ajak Teladani Rasulullah Lewat Amal Nyata di Desa Sepaso
Kopi 8
Memuat tombol bagikan...

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Sepaso Induk. Foto: Miftah/Nupiansyah Pro Kutim

BENGALON — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Sepaso Induk, Kecamatan Bengalon, menjadi momentum untuk kembali meneladani ajaran Rasulullah SAW melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi yang hadir dalam acara tersebut menegaskan, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup diwujudkan melalui pembacaan selawat maupun penghayatan terhadap kisah kehidupan beliau. Lebih dari itu, kecintaan tersebut perlu diterjemahkan dalam perbuatan yang mencerminkan akhlak dan ajaran Rasulullah.

“Memperingati Maulid Nabi jangan hanya berhenti pada pembacaan selawat dan kisah. Kecintaan kepada Rasulullah SAW harus ada tindakan nyata,” ujarnya dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Sepaso Induk pada Minggu (20/9/2026).

Salah satu bentuk nyata yang ditekankan Wabup adalah kepedulian terhadap anak yatim. Menurutnya, memuliakan dan menyayangi anak yatim merupakan salah satu ajaran yang sangat ditekankan Rasulullah SAW.

Ia mengingatkan, Rasulullah SAW sendiri tumbuh sebagai seorang yatim. Ayah beliau, Abdullah, wafat sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, sementara ibunya, Aminah, wafat ketika beliau masih kecil. Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari perjalanan hidup Rasulullah SAW yang kemudian mendapatkan perlindungan Allah SWT.

Karena itu, menurut Wabup, peringatan Maulid semestinya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Nilai kecintaan kepada Rasulullah perlu diwujudkan melalui kepedulian sosial, termasuk memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak yatim.

Pesan tersebut sejalan dengan tausiah Ustaz Asnawi Al Bugizi yang mengingatkan pentingnya menjadikan Maulid sebagai momentum memperbaiki kualitas diri.

Ia menyampaikan, salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah memperbaiki akhlak manusia. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

“Mencintai Rasulullah diwujudkan dengan perbuatan baik, menjaga salat dan memperbaiki akhlak,” pesannya.

Dalam kesempatan itu, Ustaz Asnawi juga mengibaratkan kebaikan seperti benih pohon. Sebiji benih yang ditanam dan dirawat dapat tumbuh menjadi pohon yang kemudian menghasilkan banyak biji.

Filosofi tersebut menggambarkan bahwa satu kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dapat melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya.

Ia juga mengingatkan keutamaan berselawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selawat tidak sekadar menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid, tetapi menjadi bentuk kecintaan umat kepada Rasulullah sekaligus amalan yang memiliki keutamaan besar.

Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diharapkan tidak hanya menghadirkan suasana religius dalam satu hari, tetapi meninggalkan pesan yang terus hidup dalam keseharian masyarakat memperbanyak kebaikan, menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.(kopi8/kopi13)

Memuat tombol bagikan...