Kepala BPBD Kutim Sulastin menerima secara simbolis bantuan peralatan penanganan siaga darurat karhutla dari BNPB RI. Foto: Istimewa.
PENAJAM PASER UTARA - Api di kawasan hutan dan lahan tidak selalu bermula dari kobaran yang kasatmata. Titik panas yang kecil dapat menjadi persoalan besar apabila terlambat ditemukan dan ditangani. Di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), bentang wilayah yang luas membuat kecepatan bergerak menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karena itu, kesiapan penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan mengandalkan personel. Peralatan yang memadai dibutuhkan agar petugas dapat segera melakukan tindakan ketika titik api ditemukan. Setiap perlengkapan menjadi bagian dari mata rantai respons awal, mulai dari pemadaman hingga perlindungan petugas yang berada di lapangan.
Kebutuhan tersebut mendapat sokongan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui bantuan peralatan siaga darurat karhutla. Bantuan itu diserahkan dalam Rapat Teknis Penanganan Darurat Karhutla Provinsi Kalimantan Timur di Bendungan Sepaku Semoi, Kabupaten Penajam Paser Utara, Senin (14/9/2026) sore.
Kutim menjadi salah satu dari tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Timur (Kaltim) yang menerima dukungan peralatan melalui Dana Siap Pakai (DSP). Bantuan diterima secara simbolis oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, Sulastin, yang hadir mewakili Bupati Kutim. Peralatan yang diterima bukan hanya perlengkapan pemadam. Bantuan tersebut mencakup dua unit pompa jinjing 2 HP, dua unit nozzle 2,5 inci, lima roll selang 2,5 inci, dua unit Y Connector 2,5 inci ke 1,5 inci, lima roll selang 1,5 inci, serta dua unit nozzle 1,5 inci. Selain itu, BNPB menyerahkan 10 set alat pelindung diri (APD), 20 unit pompa punggung, dan 30 unit gebyok api.

Bagi tim di lapangan, kelengkapan semacam itu memiliki arti praktis. Peralatan pemadam memungkinkan penanganan dilakukan lebih cepat ketika api masih berada pada tahap awal. Sementara APD diperlukan untuk menunjang keselamatan personel ketika menjalankan tugas penanganan. Sulastin mengatakan tambahan perlengkapan tersebut akan membantu memperkuat kemampuan tim BPBD Kutim dalam menghadapi kemungkinan munculnya titik api.
"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan dari BNPB RI ini. Mengingat wilayah Kutim yang sangat luas, tambahan perlengkapan pemadam dan APD ini akan sangat mengoptimalkan tim lapangan kami dalam mendeteksi dan memadamkan titik api secara cepat (quick response)," ujar Sulastin.
Menurut dia, bantuan peralatan tidak semata-mata diarahkan untuk memperkuat kemampuan pemadaman. Dukungan tersebut juga menjadi bagian dari ikhtiar memperpendek waktu penanganan sejak api pertama kali terdeteksi. Dalam penanganan karhutla, waktu menjadi unsur yang menentukan. Keterlambatan penanganan dapat membuat api semakin sulit dikendalikan. Persoalan itu menjadi lebih kompleks ketika kebakaran terjadi di wilayah yang memiliki akses terbatas atau jarak antarlokasi cukup jauh.

Kondisi geografis Kutim membuat kebutuhan tersebut semakin relevan. Dengan wilayah yang luas, tim penanganan membutuhkan kesiapan untuk bergerak menuju lokasi sesegera mungkin setelah memperoleh informasi mengenai potensi kebakaran. Karena itu, BPBD Kutim akan memanfaatkan dukungan tersebut untuk memperkuat kesiapsiagaan tim di lapangan. Patroli dan pemantauan wilayah tetap menjadi bagian penting untuk mengenali potensi kebakaran sedini mungkin.
"Kami akan terus memperkuat kesiapsiagaan, bukan hanya ketika sudah terjadi kebakaran. Pencegahan dan deteksi dini harus menjadi prioritas, sehingga kalau ada titik api bisa segera ditangani sebelum meluas," kata Sulastin.
Pola penanganan itu menempatkan pencegahan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari respons kebencanaan. Petugas tidak hanya dituntut mampu memadamkan api, tetapi juga mengupayakan agar kebakaran tidak berkembang dan menjangkau kawasan yang lebih luas. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi BPBD dengan TNI, Polri, perangkat daerah terkait, dan masyarakat. Menurut Sulastin, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan satu institusi karena sumber daya yang dibutuhkan dan cakupan wilayah yang harus diawasi cukup besar.
"Kami terus membangun kolaborasi dengan TNI, Polri dan masyarakat. Informasi dari masyarakat sangat penting karena semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula tim dapat bergerak ke lokasi," ujarnya.
Peran masyarakat menjadi penting dalam mata rantai deteksi dini. Informasi awal mengenai kemunculan asap atau api dapat menjadi pijakan bagi petugas untuk menentukan tindakan berikutnya. Kecepatan informasi kemudian berpaut dengan kecepatan mobilisasi personel dan peralatan.
Dalam rapat teknis di Bendungan Sepaku Semoi itu, Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa tidak ada kabupaten/kota di Kaltim yang saat ini masuk kategori zona merah karhutla. Sebaran titik panas juga berada pada kategori sedang dan rendah.

Kondisi tersebut menjadi gambaran situasi karhutla di Kaltim saat rapat berlangsung. Namun, kewaspadaan tetap diminta untuk dipertahankan. Pemerintah pusat meminta daerah menjaga kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi lintas sektor sebagai bagian dari langkah pencegahan. Bagi Kutim, kesiapsiagaan itu berpijak pada kebutuhan menghadapi wilayah yang luas dan karakter geografis yang membuat respons lapangan harus dipersiapkan dengan saksama. Bantuan BNPB menambah peranti yang dapat digunakan ketika petugas melakukan tindakan awal di lokasi.
Pada akhirnya, keberadaan pompa, selang, nozzle, pompa punggung, gebyok api, dan APD bukan hanya perkara kelengkapan inventaris. Peralatan tersebut menjadi sarana untuk mempercepat langkah petugas ketika api ditemukan dan membantu melindungi personel yang berada di garis depan penanganan.
Harapannya, kebakaran dapat ditangani sebelum menjalar lebih jauh dan menimbulkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat maupun lingkungan.
"Kami tentu berharap tidak sampai terjadi kebakaran besar. Tetapi kalau ada kejadian, kami harus siap dengan personel, peralatan dan koordinasi. Prinsipnya lebih baik mencegah dan merespons sejak awal daripada menunggu api meluas," tegas Sulastin.
Dengan tambahan dukungan tersebut, kesiapsiagaan Kutim menghadapi karhutla diperkuat dari dua sisi, kemampuan merespons ketika kejadian muncul dan upaya mencegah api berkembang sejak mula. Dalam urusan kebakaran hutan dan lahan, jeda waktu yang pendek antara laporan dan tindakan menjadi ruang penting untuk menyelamatkan kawasan yang lebih luas. (kopi5/kopi4/kopi3)








