Foto David Johansyah, runner asal Bontang, mengikuti Bupati Running Fest Kutim 2026. Foto Vian/Pro Kutim
SANGATTA - Garis start Bupati Running Fest 2026 di Alun-Alun Bukit Pelangi, Sangatta, Minggu (27/9/2026), tidak hanya dipenuhi pelari muda. Di antara ribuan peserta yang mengambil bagian, hadir anak-anak, pelajar, orang dewasa hingga pelari senior berusia 67 tahun. Perbedaan usia tidak menjadi penghalang untuk berada di lintasan yang sama. Mereka datang dengan tujuan beragam, mulai dari menjaga kebugaran, menguji kemampuan, mencari pengalaman, hingga menikmati suasana berlari bersama keluarga dan komunitas. Sehari sebelumnya, Sabtu (26/9/2026), suasana Running Fest telah lebih dahulu diwarnai kehadiran anak-anak usia 5 sampai 8 tahun melalui kategori Kids Dash dengan jarak 800 meter. Kategori tersebut memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal olahraga lari melalui pengalaman yang sederhana, menyenangkan, sekaligus membangun keberanian sejak dini.
Memasuki Minggu pagi, giliran pelari dewasa dan pelajar mengambil bagian dalam kategori 5K dan 10K. Lebih dari 2.500 peserta mengikuti rangkaian Bupati Running Fest 2026. Mereka datang tidak hanya dari Kutim, tetapi juga dari sejumlah daerah di Kalimantan Timur.
Salah seorang peserta yang menarik perhatian ialah David Johansyah, runner asal Bontang yang telah berusia 67 tahun. Ia tetap turun ke lintasan kategori 10K dan menyelesaikan tantangan tersebut bersama para pelari yang usianya jauh lebih muda.
“Saya ikut lari supaya tetap sehat. Umur boleh 67 tahun, tapi jangan berhenti bergerak,” ujar David seusai mengikuti lomba.
David mengaku senang dapat mengikuti Running Fest di Sangatta. Baginya, kegiatan seperti ini memberikan kesempatan untuk bertemu dengan pelari dari berbagai daerah sekaligus menjaga semangat untuk tetap berolahraga.

Kisah berbeda datang dari Steven Rante, warga yang berdomisili di Swarga Bara, Sangatta. Ia mengikuti Running Fest bersama empat saudaranya. Bagi mereka, lomba lari menjadi kesempatan untuk berolahraga sekaligus menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Kami ikut ramai-ramai bersama saudara. Selain olahraga, seru juga bisa lari bareng keluarga,” kata Steven.
Kehadiran keluarga dalam satu lintasan memperlihatkan bahwa olahraga tidak selalu harus dilakukan secara individual. Ajang seperti Running Fest dapat menjadi ruang untuk membangun kebiasaan hidup aktif bersama orang-orang terdekat. Hal serupa terlihat dari keterlibatan anak-anak dalam Kids Dash. Bagi peserta usia dini, pengalaman berlari di hadapan masyarakat dapat menjadi langkah awal untuk mengenal aktivitas olahraga, belajar mengikuti aturan, membangun keberanian, sekaligus merasakan kegembiraan dalam bergerak.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman sebelumnya menyampaikan bahwa kategori lari anak usia 5 hingga 8 tahun tersebut akan dipertahankan sebagai bagian dari agenda Running Fest pada tahun-tahun berikutnya.
“Usia 5 sampai 8 tahun sudah dilaksanakan kemarin. Itu juga akan menjadi agenda rutin kita setiap tahun,” ujar Ardiansyah.
Keberlanjutan kategori anak sekaligus kehadiran pelari senior seperti David memperlihatkan bahwa olahraga dapat menjadi ruang bersama lintas usia. Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk memulai, sementara orang dewasa dan peserta senior tetap memiliki ruang untuk menjaga kebugaran serta mengembangkan kemampuan.

Antusiasme peserta dari luar Kutim juga memperlihatkan bahwa olahraga lari telah berkembang menjadi aktivitas yang mempertemukan masyarakat lintas daerah. Para runner datang bukan hanya untuk mengejar catatan waktu, tetapi juga membawa semangat komunitas dan pengalaman masing-masing ke dalam satu kegiatan.
Bupati Running Fest 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar perlombaan. Dari langkah kecil anak-anak di Kids Dash, kebersamaan Steven bersama empat saudaranya, hingga ketangguhan David yang tetap menempuh 10K pada usia 67 tahun, lintasan di Bukit Pelangi memperlihatkan bahwa olahraga dapat dinikmati siapa saja dan pada usia berapa saja.
Semangat lintas generasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun budaya olahraga di Kutim. Ketika anak-anak mulai diperkenalkan pada olahraga, keluarga ikut bergerak, dan peserta senior tetap aktif, olahraga tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Ia dapat tumbuh menjadi kebiasaan yang hadir dalam kehidupan masyarakat. (kopi4/kopi3)








