Widget Gambar

Maulid Nabi di Muara Bengalon Jadi Momentum Memperkuat Salawat 

Maulid Nabi di Muara Bengalon Jadi Momentum Memperkuat Salawat 
kopi 15
Memuat tombol bagikan...

Jalannya peringatan Maulid Nabi di Muara Bengalon dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman. Foto: Dewi/Pro Kutim

MUARA BENGALON – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali mengenang kelahiran Rasulullah sekaligus memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW melalui memperbanyak selawat dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di Mushola Al Muhajirin Desa Muara Bengalon, pada Sabtu (19/9/2026). Dalam kesempatan itu, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman hadir sekaligus menyampaikan tausiah di hadapan masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat pemerintahan, serta para undangan.

Dalam sambutannya, Ardiansyah terlebih dahulu menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang hadir dan memberikan penghormatan kepada jajaran DPRD Kabupaten Kutim, camat beserta perangkat Kecamatan Bengalon, kepala desa beserta perangkat, ketua RT, LPM, tokoh masyarakat, tokoh agama, kaum ibu, hingga anak-anak yang turut mengikuti peringatan tersebut.

Ia mengungkapkan, dirinya mendapat permintaan untuk mengisi kegiatan Maulid pada tanggal 17 namun terlaksana di tanggal 19 ini, setelah menyelesaikan ibadah umrah dan kembali ke Kutim pada tanggal 15. Meski perjalanan menuju lokasi kegiatan sempat membuat kondisi tubuh kurang fit, ia berharap pertemuan dengan masyarakat dalam suasana Maulid tersebut menjadi bagian dari keberkahan dan memperkuat semangat untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan.

Menurut Ardiansyah, Maulid secara sederhana dimaknai sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikenal berlangsung pada 12 Rabiul Awal. Kendati peringatan telah melewati waktu tersebut, menurutnya, mengenang perjuangan dan keteladanan Rasulullah tidak dibatasi oleh waktu.

“Peringatan Maulid bukan sekadar mengingat hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi bagaimana kita menjadikan kehidupan beliau sebagai teladan dalam kehidupan kita,” pesannya.

Ia menjelaskan, kecintaan kepada Rasulullah dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk ibadah, termasuk memperbanyak selawat dan menjalankan puasa sunah. Salah satu amalan yang dikaitkan dengan kelahiran Rasulullah adalah puasa pada hari Senin.

Ardiansyah menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin dan menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari kelahirannya. Karena itu, umat Islam dianjurkan menjadikan puasa Senin sebagai salah satu bentuk ibadah sunah sekaligus upaya mengikuti tuntunan Rasulullah.

Selain Senin, ia juga mengingatkan tentang puasa pada hari Kamis. Dalam penjelasannya, hari Kamis disebut sebagai salah satu waktu ketika amal manusia diangkat, sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, termasuk dengan melaksanakan puasa sunah.

Lebih lanjut, Ardiansyah menekankan pentingnya memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia mengingatkan bahwa perintah berselawat kepada Rasulullah memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur'an, yakni Allah SWT dan para malaikat berselawat kepada Nabi, sementara orang-orang beriman diperintahkan untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada beliau.

Menurutnya, selawat tidak harus dilakukan dalam situasi tertentu. Umat Islam dapat membacanya kapan saja dan di mana saja, baik ketika berjalan, setelah melaksanakan salat, maupun menjelang beristirahat.

Ia juga menyampaikan keutamaan berselawat sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW, bahwa siapa yang berselawat satu kali kepada Rasulullah, Allah SWT akan memberikan selawat kepadanya sepuluh kali.

“Perbanyaklah salawat. Tidak perlu dihitung berapa kali, karena semakin banyak kita berselawat, insyaallah semakin banyak pula rahmat Allah yang kita harapkan,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, selawat tidak hanya dipandang sebagai rangkaian ucapan dalam peringatan keagamaan, tetapi juga sebagai wujud kecintaan umat kepada Rasulullah sekaligus ikhtiar untuk memperoleh rahmat Allah SWT dan syafaat Rasulullah SAW.

Pada bagian lain tausiah, Ardiansyah mengajak masyarakat menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam menjalani kehidupan.

Menurutnya, umat Islam tidak perlu mencari figur keteladanan hanya dari tokoh-tokoh terkenal di dunia, karena Rasulullah telah memberikan contoh kehidupan yang mencakup berbagai aspek, mulai dari kehidupan keluarga, bermasyarakat, kepemimpinan hingga hubungan dengan sesama manusia.

Ia menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang jujur, penyayang, adil dan memiliki akhlak mulia. Kasih sayang Rasulullah tidak hanya ditunjukkan kepada keluarga dan anak-anak, tetapi juga kepada orang-orang yang berbeda pandangan bahkan kepada pihak yang menjadi lawannya.

“Dalam diri Rasulullah terdapat suri teladan yang terbaik. Karena itu, yang harus kita contoh adalah sifat dan akhlak beliau,” pesannya.

Ardiansyah juga menggambarkan Rasulullah SAW sebagai seorang pemimpin negara di Madinah sekaligus panglima perang. Namun, kedudukan tersebut tidak menjadikan beliau kehilangan sifat kasih sayang dan keadilan.

Menurutnya, kepemimpinan Rasulullah menunjukkan bahwa kekuatan dan kewibawaan harus berjalan bersama akhlak. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu menjalankan amanah, tetapi juga harus memiliki sikap adil dan memperlakukan manusia dengan penuh penghormatan.

Dalam kehidupan rumah tangga, Rasulullah juga memberikan teladan tentang pentingnya membangun hubungan yang harmonis. Ardiansyah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berlomba lari dengan istrinya, Aisyah RA, sebagai salah satu gambaran kedekatan dan keharmonisan hubungan dalam keluarga.

Menutup tausiah, Ardiansyah mengingatkan masyarakat agar peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial yang hanya dilakukan setiap tahun.

Menurutnya, esensi Maulid justru terletak pada kemampuan umat untuk menerapkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Semangat memperingati kelahiran Nabi harus diteruskan melalui peningkatan ibadah, memperbanyak selawat, menjalankan puasa sunah, serta membangun akhlak yang baik di tengah keluarga dan masyarakat.

Ia berharap kecintaan kepada Rasulullah SAW terus tumbuh dalam kehidupan masyarakat sehingga nilai-nilai Islam tidak hanya terdengar dalam majelis-majelis keagamaan, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari.

“Jadikan Maulid sebagai pengingat untuk terus berselawat dan meneladani Rasulullah. Semoga syafaat Rasulullah senantiasa menyertai kita, keluarga dan masyarakat, serta rahmat Allah SWT senantiasa diturunkan kepada kita,” pungkasnya.(kopi15/kopi13/kopi3) 

Memuat tombol bagikan...