Perayaan Paskah Gereja -Gereja Pentakosta Indonesia se sekutim. Foto: Alvian Pro Kutim
SANGATTA - Malam itu, suasana hangat dan penuh sukacita menyelimuti Gereja Bethel Tabernakel (GBT) Yesus Alpha Omega di Jalan Tongkonan Rannu, Sangatta Utara. Ratusan jemaat dari berbagai gereja yang tergabung dalam Gereja-Gereja Pantekosta Indonesia se-Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berhimpun dalam satu perayaan yang sarat makna. Paskah, momentum yang bukan hanya meneguhkan iman, tetapi juga merawat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.
Perayaan Paskah yang berlangsung pada Senin malam (1/6/2026) itu menjadi ruang perjumpaan yang mempererat ikatan antargereja sekaligus menggemakan pesan kasih, pengharapan, dan toleransi yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan sosial di Kabupaten Kutim. Pemkab Kutim turut hadir melalui Kepala Dinas Pertanahan, Simon Salombe, yang mewakili Bupati Kutim. Kehadiran pemerintah daerah mendapat sambutan hangat dari para tokoh gereja maupun jemaat yang mengikuti rangkaian ibadah.
Dalam sambutannya, Simon Salombe menegaskan bahwa Paskah merupakan perayaan yang mengandung nilai luhur dan memiliki makna universal yang melampaui batas-batas perbedaan. Menurutnya, pesan kasih, pengorbanan, pengharapan, dan kebersamaan yang terkandung dalam Paskah sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat.
"Paskah mengajarkan nilai-nilai kasih, pengorbanan, dan pengharapan yang sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kebersamaan dan menjaga persatuan di tengah keberagaman yang ada di Kutim," ujarnya.
Ia menuturkan, kehidupan masyarakat Kutai Timur yang majemuk merupakan anugerah yang harus dijaga bersama. Dalam pandangannya, kemajemukan bukanlah alasan untuk menciptakan sekat, melainkan modal sosial yang dapat memperkukuh persatuan dan mendukung pembangunan daerah.

"Kutim adalah rumah bersama bagi masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang suku, budaya, dan agama. Karena itu, semangat toleransi harus terus dirawat. Pemerintah daerah memberikan ruang dan kesempatan yang sama bagi seluruh umat beragama untuk menjalankan keyakinannya dengan damai dan nyaman. Kerukunan yang selama ini terjaga merupakan modal penting bagi kemajuan daerah," kata Simon.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan atas komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kehidupan keagamaan yang harmonis. Kesempatan yang setara bagi seluruh pemeluk agama untuk menjalankan ibadah dan berpartisipasi dalam pembangunan dinilai menjadi salah satu pilar penting yang menjaga stabilitas sosial di Kutim.
Sementara itu, Gembala Sidang GBT Yesus Alpha Omega, Pendeta Yus Ambudi, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya perayaan bersama yang mempertemukan umat dari berbagai gereja dalam satu persekutuan. Menurutnya, Paskah tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga wahana mempererat relasi antarsesama jemaat serta memperkuat kesaksian gereja dalam kehidupan bermasyarakat.
"Paskah mengingatkan kita akan kasih Tuhan yang begitu besar kepada manusia. Kebangkitan Kristus menjadi sumber pengharapan yang memberikan kekuatan bagi umat percaya untuk hidup dalam kasih, damai sejahtera, dan menjadi berkat bagi sesama," ujar Pendeta Yus Ambudi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang selama ini terus mendukung terciptanya kehidupan yang rukun di tengah keberagaman masyarakat Kutim.

"Kami bersyukur karena hubungan antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat di Kutai Timur berjalan dengan baik. Ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan dan toleransi terus tumbuh dan dijaga bersama," katanya.
Pesan utama perayaan disampaikan oleh Pendeta Paulus yang mengajak jemaat memaknai kebangkitan Yesus Kristus sebagai dasar iman dan sumber pengharapan yang tidak lekang oleh berbagai tantangan kehidupan.
Dalam khotbahnya, ia menegaskan bahwa Paskah bukan hanya peringatan tahunan yang hadir sekali dalam setahun, melainkan kabar sukacita yang mengubah kehidupan manusia.
"Paskah membawa kabar sukacita bahwa Yesus mati untuk menebus dosa manusia dan bangkit untuk memberikan hidup yang baru, pengharapan yang pasti, serta jaminan keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu, Paskah bukan hanya untuk dirayakan, tetapi untuk dihidupi setiap hari melalui iman, kasih, dan ketaatan kepada Kristus," pesan Pendeta Paulus.
Ia menambahkan bahwa kebangkitan Kristus merupakan bukti kemenangan atas dosa dan maut sekaligus sumber keteguhan bagi umat dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup.
"Di tengah berbagai pergumulan hidup, kita memiliki pengharapan karena Kristus telah bangkit. Kebangkitan-Nya memberi kekuatan untuk tetap setia, hidup dalam kebenaran, mengasihi sesama, dan menjadi terang di tengah dunia," ujarnya.

Di antara ratusan jemaat yang hadir, sukacita serupa juga dirasakan Maria Magdalena. Ia mengaku bersyukur dapat mengikuti perayaan yang mempertemukan umat dari berbagai gereja dalam suasana penuh keakraban dan persaudaraan.
"Saya merasa sangat diberkati. Selain memperkuat iman, perayaan seperti ini mempererat hubungan persaudaraan antarsesama umat percaya. Kehadiran pemerintah juga menunjukkan bahwa kerukunan dan toleransi di Kutim benar-benar mendapat perhatian," tuturnya.
Sepanjang rangkaian kegiatan, suasana berlangsung khidmat. Pujian dan penyembahan menggema dari dalam rumah ibadah, berpadu dengan doa-doa yang dipanjatkan bersama. Penampilan paduan suara menambah kekhusyukan perayaan sebelum firman Tuhan disampaikan kepada jemaat.
Lebih dari sekadar seremoni keagamaan, perayaan tersebut menjadi penanda bahwa nilai kasih, pengampunan, persaudaraan, dan pengharapan tetap menemukan ruang hidup dalam keseharian masyarakat. Di tengah keberagaman yang menjadi watak sosial Kutim, semangat Paskah kembali mengingatkan bahwa kerukunan bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya, melainkan harus terus dipelihara melalui sikap saling menghormati, tenggang rasa, dan kesediaan hidup berdampingan.
Dari ruang ibadah di Sangatta Utara itu, gema kasih dan pengharapan kembali dipancarkan. Sebuah pesan yang sederhana, namun memiliki arti mendalam bagi kehidupan bersama: bahwa persatuan dan toleransi tetap menjadi landasan penting dalam membangun masyarakat yang damai, harmonis, dan sejahtera. (kopi4/kopi3)











