Kepulangan jemaah haji Kutim disambut dengan pelukan hangat para keluarga. Foto: Bagus/Pro Kutim
SANGATTA - Bunyi klakson iring-iringan bus yang memasuki gerbang kawasan Masjid Agung Al Faruq sore itu langsung memicu gemuruh di hati Hanif Adi Respati (22). Sejak ba'da Ashar, pemuda asal Sangatta Utara ini sudah berdiri di pelataran masjid. Matanya tak lepas memandang ke arah kaca-kaca bus, mencari dua wajah yang paling ia rindukan: ayah dan ibunya.
Bagi Hanif dan ratusan keluarga jemaah haji Kabupaten Kutai Timur (Kutim) lainnya, hari kepulangan ini adalah akhir dari sebuah penantian panjang yang dipenuhi untaian doa, rasa rindu, sekaligus kecemasan yang mendalam.

Tahun ini, pelaksanaan ibadah haji di tanah suci dihadapkan pada tantangan berat berupa cuaca ekstrem dengan suhu menyengat yang sempat menyentuh angka 48 derajat Celsius. Hal inilah yang sempat membuat tidur Hanif tidak nyenyak selama sebulan terakhir.
"Setiap kali melihat berita di televisi tentang cuaca panas di Mekah, rasanya dada ini sesak. Kalau bapak atau ibu telepon dan suaranya terdengar agak batuk saja, kami yang di Sangatta sudah ikut menangis. Hari ini, melihat bus mereka tiba, rasanya separuh beban di pundak saya langsung lepas," ungkap Hanif sambil tersenyum lega.
Begitu pintu bus terbuka penuh dan jemaah mulai diarahkan menuju area steril masjid, Hanif segera bergerak cepat. Di tengah kerumunan, ia akhirnya berhasil menemukan kedua orang tuanya.

Tanpa banyak kata, Hanif langsung merengkuh keduanya dalam satu dekapan yang erat dan hangat. Aroma khas minyak wangi rukun haji bercampur peluh perjuangan di tanah suci meresap kuat, mengikis habis seluruh gundah yang berkecamuk selama sebulan terakhir. Bagi Hanif, pemuda yang memikul tanggung jawab menjaga rumah selama ditinggal beribadah, pelukan hangat ini adalah penawar tunai atas segala kekhawatiran yang ia pendam sendiri.
"Selamat datang kembali di Sangatta, Pak, Bu. Alhamdulillah sehat," bisik Hanif lirih, membenamkan wajahnya di pundak sang ayah, sementara tangan ibunya lembut mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.

Di sudut lain halaman Masjid Agung Al Faruq, suasana kepulangan Kloter Kutim Embarkasi Balikpapan ini juga berselimut rasa duka yang mendalam. Dari total 172 jemaah haji asal Kutim yang berangkat, dua jemaah dilaporkan wafat di Mekah akibat faktor kesehatan yang diperberat oleh cuaca ekstrem. Kesedihan ini turut dirasakan oleh seluruh jemaah yang pulang.
Juwaedah (55), salah seorang hajah asal Sangatta Selatan, tampak menyeka air matanya saat baru turun dari tangga bus. Sebagai sesama jemaah, ia merasakan betul beratnya kehilangan anggota rombongan di tanah suci.
"Kami di sana seperti keluarga besar. Ketika mendengar ada dua jemaah kita yang meninggal, kami semua terpukul. Di sela-sela ibadah, kami terus mendoakan mereka yang mendahului kami dan keluarga yang ditinggalkan di Kutim agar diberi ketabahan," ujar Juwaedah dengan suara yang serak.

Malam mulai turun di Sangatta, namun halaman Masjid Agung Al Faruq masih ramai oleh canda tawa dan pelukan hangat dari berbagai keluarga yang terpisah jarak selama sebulan lebih. Bagi 170 jemaah haji Kutim, perjalanan fisik mereka dari tanah suci mungkin telah usai saat kaki menginjak bumi Kutim. Namun, perjalanan spiritual untuk menjaga kemabruran haji di tengah masyarakat baru saja dimulai.(kopi5/kopi13/kopi3)











