Pengenalan Ibadah Haji kepada anak Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA) di Masjid Agung Al-Faruq. Foto: Lintang/Pro Kutim
SANGATTA - Pagi itu, Masjid Agung Al-Faruq, Komplek Islamic Center, di kawasan Bukit Pelangi, Sangatta, berubah menjadi ruang belajar yang tak biasa. Ribuan anak mengenakan pakaian ihram, berjalan dalam barisan bersama guru dan orang tua, lalu mengikuti tahapan ibadah haji. Ternyata bukan ritual resmi, namun hanya simulasi, yakni program edukasi manasik haji. Ritual haji selama ini mungkin hanya mereka dengar dari cerita atau pelajaran di kelas.
Kawasan masjid dipadati kendaraan sejak pagi. Dari halaman hingga lingkungan sekitar, suasana riuh oleh kedatangan anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA) dari 48 lembaga pendidikan di Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Mereka hadir untuk mengikuti kegiatan Pengenalan Ibadah Haji, Rabu (16/9/2026).

Pemandangan itu sekilas menyerupai keberangkatan jemaah haji dalam ukuran yang jauh lebih kecil. Anak-anak mengenakan pakaian ihram dan mengikuti rangkaian manasik dengan cara yang disesuaikan dengan usia mereka. Di tempat itu, konsep tentang rukun Islam kelima tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dihafalkan. Mereka mempraktikkannya.
Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Agung Al-Faruq tersebut mengajak peserta mengenal berbagai tahapan ibadah haji, mulai dari mengenakan pakaian ihram, tawaf, sai, melempar jumrah, salat hingga tahalul. Setiap tahapan menjadi bagian dari pengalaman belajar yang diharapkan dapat meninggalkan kesan lebih kuat bagi anak.
Ketua Panitia, Sri Wiyanti, mengatakan kegiatan itu didampingi 180 pendamping dari lembaga TK dan RA. Menurut dia, pengenalan manasik sejak usia dini merupakan salah satu cara memberikan pemahaman agama melalui pengalaman langsung.
“Tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan tata cara berhaji dari memakai baju ihram, melempar jumrah, tawaf, salat, sai sampai dengan tahalul,” ujarnya.

Bagi anak-anak, rangkaian tersebut menjadi pengalaman yang sederhana, tetapi sarat makna. Mereka belajar mengikuti urutan kegiatan, menaati arahan pendamping, berjalan bersama, serta mengenali istilah dan tahapan dalam ibadah haji. Di balik pakaian ihram yang dikenakan peserta, terselip pula pelajaran tentang sikap. Sri mengatakan manasik haji diarahkan bukan hanya untuk memperkenalkan tata cara ibadah, melainkan juga menanamkan nilai karakter. Disiplin, kesabaran, dan sikap saling menolong diharapkan tumbuh melalui kegiatan tersebut.
Dengan cara demikian, pendidikan agama hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan dunia anak. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan mengenai haji, tetapi mencoba memahami setiap tahap melalui gerak dan pengalaman.
Bunda PAUD Kabupaten Kutim, Siti Robiah Ardiansyah, menegaskan manasik haji bagi anak usia dini tidak semata-mata bersifat seremonial. Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan sarana pendidikan agama sekaligus pembentukan karakter.

“Kegiatan ini ingin memberikan wawasan kepada anak-anak kita, ingin mengajak anak-anak kita melaksanakan praktik manasik haji dalam rangka memberikan pendidikan agama dan juga pendidikan karakter,” jelasnya.
Robiah melihat rangkaian manasik sebagai ruang pembelajaran untuk mengenalkan kedisiplinan dan kesabaran kepada anak. Kedua nilai itu, kata dia, penting menjadi bekal dalam proses belajar dan kehidupan sehari-hari.
Di sela kegiatan, Robiah berinteraksi langsung dengan peserta. Ketika ditanya siapa yang ingin menunaikan ibadah haji, anak-anak menjawab serempak ingin. Saat ditanya ke mana tujuan ibadah haji, mereka pun mampu menjawab, Makkah.
Jawaban polos itu memperlihatkan bahwa sebagian pengetahuan yang diperkenalkan melalui kegiatan pendidikan agama telah mereka tangkap. Manasik menjadi semacam panggung kecil tempat anak-anak belajar memahami ibadah sekaligus mengungkapkan cita-cita mereka dengan bahasa yang sederhana.
“Harapan kita semua, anak-anak kita juga bisa melatih kesabarannya dan juga kedisiplinannya, karena ini merupakan modal yang paling besar dalam rangka mereka belajar,” katanya.

Bagi Robiah, pembelajaran semacam itu penting karena pendidikan anak tidak hanya menyangkut kemampuan akademik. Nilai agama dan karakter juga perlu diperkenalkan sejak usia dini melalui pendekatan yang dapat mereka pahami.
Ia menyampaikan apresiasi kepada panitia,
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur, mitra PAUD PT Kaltim Prima Coal (KPC), para guru dan pendamping, serta orang tua yang turut mengantarkan anak-anak mengikuti kegiatan.
Keterlibatan banyak pihak membuat kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi pendidikan anak. Guru mendampingi proses pembelajaran, orang tua memberikan dukungan, sedangkan anak-anak menjadi pelaku utama dalam pengalaman manasik itu sendiri.
Robiah berharap pembekalan agama yang diberikan sejak dini, termasuk melalui praktik manasik haji, dapat membantu membentuk generasi Kutim yang berkualitas, memiliki wawasan keagamaan, serta berakhlak mulia.
Di Bukit Pelangi pagi itu, ribuan anak memang belum menunaikan ibadah haji yang sesungguhnya. Mereka tengah belajar mengenal salah satu rukun Islam melalui sebuah pengalaman yang dibuat dekat dengan dunia mereka. Dari pakaian ihram, langkah-langkah kecil dalam tawaf dan sai, hingga jawaban tentang Makkah, sebuah pelajaran agama diperkenalkan dengan cara yang dapat mereka lihat, rasakan, dan lakukan sendiri.
“Harapan kita semua, anak-anak kita mempunyai akhlak yang mulia,” tutupnya. (kopi17/kopi4/kopi3)











